ANGKA KESEMBUHAN JATIM TERTINGGI!



  • Bismillah..
    Assalamualaikum..

    Alhamdulillah semoga kita sehat wal afiat,
    Semula saya kaget melihat headline berita di koran nasional, ternyata setelah saya melihat datanya secara langsung saya baru percaya:

    https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/

    saya bukan orang analitik maupun statistik, tetapi jika dihitung secara kasar saja, angka kesembuhan tiap provinsi berbeda beda (pasien sembuh dibagi dengan jumlah pasien konfirmasi),
    saya sengaja ambil 5 prov besar saja
    DKI Jakarta : 5,27%
    Jawa Barat : 4,93%
    Jawa Timur : 20,10%
    Banten: 3,74 %
    Jawa Tengah : 10,60%

    Alhamdulillah, dengan ini saya berharap angka kesembuhannya akan terus meningkat.

    Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati, saya telah mendengar dan melihat beberapa website dan jurnal bahwa memang saat ini belum ada obat yang pakem untuk pengatasan COVID19 sendiri. Pada Guideline beberapa negara semua memproklamirkan pengobatan yang paling efektif dan efisien bagi pasien yang terjangkit di daerahnya, bahkan golden standartnya berbeda-beda

    Tetapi apakah itu juga berlaku di Indonesia juga ? BISA JADI

    Apabila pola pengobatan dilihat langsung tiap Provinsi (RS) dan kalau dilihat dari angka kesembuhan seperti itu sepertinya IYA MEMANG BEDA tiap daerah, karena perbedaan angka kesembuhan tiap provinsi berbeda jauh. Semua daerah pada berlomba untuk mendapatkan formula pengobatan yang terbaik untuk saat ini (dengan opsi pengobatan yang terbatas tentunya) (((yang saya dengar begitu)))

    Pengobatan utama saat ini adalah Anti Virus
    Anti Virus atau yang biasa disebut ARV sendiri bermacam bentuknya dan kegunaannya. dari yang generasi lama hingga baru. Ada yang penggunaannya untuk Herpes, Campak, Hepatitis, hingga sampai untuk pasien HIV AIDS.

    Kemaren ada berita bahwa obat yang berikan (Avigan) di China dan yang akan diimpor masuk malah ditarik dari jurnal:

    Paper ttg Avigan thd Covid19 di China ditarik dari jurnal.
    https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2095809920300631

    Jadi orang kan bertanya-tanya, apa benar obat tersebut efektif atau gmn ?

    Ada beberapa slentingan kabar beredar juga bahwa obat antivirus yang digunakan oleh pasien COVID19 juga dipakai oleh pasien HIV. nah yang seperti ini para ahli juga harus diajak diskusi lebih dalam. Panggil itu ahli tiap daerah (bila perlu jatim juga ikut), bandingkan pengobatannya, open case dengan tetap menganut etika keprofesian

    Disisi lain pihak pemberi kewenangan (khususnya pemerintah pusat dan daerah) harus mengetahui dan bertindak cepat, karena jangan sampai daerah sudah bertindak tapi kehabisan amunisi karena obat tidak tersedia (dalam artian stoknya dipakai untuk pasien HIV AIDS), bila perlu diamanin juga proses administrasi atau impor obatnya sesegera mungkin. jika memang sulit ya pasti kita akan dihadapkan sebuah pilihan, seperti kejadian di Italia menolong pasien dengan harapan hisup kecil atau besar (semoga ini tidak terjadi)

    Saat ini kita sedang "berperang" tolong jangan berpikir lagi secara administratif yang terlalu kaku..

    Terima Kasih
    Warga Jatim


  • Relawan

    Izin bantu menjawab @matori Dari penjelasan kemarin dari Webinar Papdi (Persatuan Dokter spesialis penyakit dalam indonesia) Menyatakan bahwa Terapi yang di gunakan masih secara suportif dan Obat nya masih tidak spesifik, Dan obat yang digunakan adalah :

    • Lopinavir/Ritonavir (Benar di gunakan sebagai obat infeksi HIV-1 [Medscape])
    • Hidroksiklorokuin ( Golongan kloroquin) atau chloroquine fosfat
    • Jika ada resistensi atau alergi, bisa menggunakan darunavir/cobiscitat
    • Ribavirin

    Untuk Avigan masih di perdebatkan di kalangan masih menimbulkan berbagai macam efek dan Dokter masih menggunakan terapi di atas sebagai acuan dan pemakaian obat yang telah disampaikan harus ada supervisi dari dokter khusunya dokter paru dan internist di karenakan obat memliki efek yang merusak jika dipakai tidak sesuai dengan dosis, seperti hidroksikloroquin yang menyebabkan timbulnya toksin pada mata yang dapat berdampak pada kebutaan

    Terimakasih



  • @Relawan-sholah
    ada ulsan tertulis kah (sumber dari PAPDI) ?
    minta link dong mas, biar bisa kami bahas dengan yang lain..

    mhn ijin menambahkan juga,
    utk oseltamivir/tamiflu yang sebelumnya sudah pernah digunakan untuk flu burung telah dinyatakan di jurnal tidak signifikan dengan pasien yang tidak menggunakan oseltamivir sendiri. OSeltamivir memang spesifik untuk virus influenza (MERS CoV) bukan COVID19 (https://www.jstage.jst.go.jp/article/bst/14/1/14_2020.01020/_pdf/-char/en)

    Ada beberapa clinical trial yang membandingkan antara osetamivir sendiri dengan lopinavir/ritonavir namun masih belum selesai juga, sehingga belum bisa dipublikasikan ( https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04255017 )

    Bagaimana mas ? apakah bisa dijembatani ke pemerintah pusat/daerah terkait ketersediaannya ?

    Terima kasih


  • Relawan

    @matori untuk link bisa di liat di YouTube dengan channel PAPDI dan video webinar terkait Covid-19


Log in to reply
 



Pengguna Online: