Rencana mudik



  • Assalamualaikum, selamat malam..

    Saat ini saya bekerja di sebuah pabrik di tangerang banten. Pabrik akan ditutup lebih awal sebelum cuti lebaran, mungkin sekitar awal bulan April hingga waktu yang belum bisa dipastikan. Untuk itu saya berencana akan mudik ke kampung halaman di jawa timur, karena waktu libur yang terlalu panjang dan saya tidak bekerja lagi.
    Rencananya saya akan melakukan karantina mandiri, jika tidak boleh dilakukan dirumah sendiri saya bersedia dikarantina ditempat yang telah disediakan oleh pemerintah daerah.
    Pertanyaan saya, apabila saya telah melakukan karantina mandiri selama waktu yang telah ditetapkan apakah saya masih memiliki resiko untuk dapat menularkan kepada orang lain jika (naudzubillah himindzalik) saya ternyata carrier virus covid 19?
    Sebagai informasi tambahan saya tidak memiliki gejala2 penyakit tsb, but who knows?

    Demikian pertanyaan saya, atas jawaban dan informasinya saya sampaikan terimakasih.

    Salam,
    Lumos.


  • Relawan

    Halo @lumos

    Memang sulit sekali mendeteksi kelompok "asymtomatic carrier" = mereka yang membawa virus tsb namun tidak menunjukkan gejala. Sehingga yang dapat diedukasikan:

    1. PHBS = perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, mandi dan mengganti pakaian sehabis bekerja, tidak sembarangan menyentuh daerah wajah dengan tangan
    2. Physical distancing

    Kedua upaya tsb diatas diharap menekan angka tertular coronavirus. Meskipun tangan kita yang sudah terkena virus, apabila tidak sembarangan menyentuh daerah wajah/mulut, lalu segera mencuci tangan, maka virus corona itupun tetap akan mati.

    Memang dalam prakteknya tidak mudah semua orang menerapkan PHBS. Sehingga ada 1-2 kasus yang "terlewat". Namun apabila kedua upaya di atas diterapkan benar2, diharapkan dapat menekan angka penularan dengan sangat baik.

    Contohlah negara2 di dunia yang berhasil menerapkan PHBS dan Physical Distancing dengan baik, tanpa perlu lockdown, sepeti Korea Selatan, Taiwan, Jepang. Mereka memiliki angka kasus baru yang sangat minim. Membuktikan bahwa kedua upaya tersebut efektif apabila dapat diterapkan dengan baik.

    Prinsipnya mencegah lebih diprioritaskan dibandingkan upaya mendeteksi, mengingat adanya "asymtomatic carrier" yang hanya dapat dengan akurat dideteksi dengan swab tenggorok secara agresif dan masal. Fakta di Indonesia belum mampu melakukan pemeriksaan swab dengan agresif.

    Tentunya cuci tangan disana sesuai dengan PHBS yang sudah banyak diedukasikan : menggunakan air mengalir, sabun, dan minimal durasi 20 detik dengan 6 gerakan cuci tangan.

    Tetap waspada , semoga membantu

    Dara Safira Mellyana A.P
    Mahasiswa Keperawatan



  • Dear @Relawan-Dara-S,

    Thankyou for answering.

    Jadi mengenai pertanyaan saya, setelah masa karantina mandiri usai apakah saya masih tetap memiliki resiko untuk menularkan virus, ataukah saya sudah bisa dikategorikan bukan sebagai carrier?

    Terimakasih,

    Salam,
    Lumos


  • Relawan

    Halo @lumos

    Untuk masih mempunyai resiko atau tidak, setiap orang pasti mempunyai resiko masing" saat sudah berpergian mengingat wabah covid 19 masih ada dimanapun. Yg hanya bisa kita lakukan yaitu meminimalkan proses penyebaran, saya sangat mengapresiasikan terkait kesadaran untuk isolasi mandiri tapi ingat untuk slalu patuhi protokol kesehatan , silahkan cek di https://www.kemkes.go.id/article/view/20031700001/Dokumen-Resmi-dan-Protokol-Penanganan-COVID-19.html

    Jika dirasa anda sudah memenuhi protokol kesehatan, maka mungkin resiko bisa jadi sudah tidak ada. Tapi jika anda ragu silahkan kunjungi faskes terdekat / hubungi hotline center corona

    Semoga membantu


  • Relawan

    Halo @lumos terima kasih atas pertanyaannya
    izin menambahkan bahwa setiap orang berpeluang menjadi carrier agent/pembawa virus. perlu diketahui bahwa umumnya kekebalan tubuh seseorang dengan usia 20-40 masih sangat kuat sehingga dapat berperang melawan virus tersebut. hal ini berbanding terbalik kondisinya dengan lansia, terlebih jika lansia tersebut memiliki komorbid/penyerta lain seperti hipertensi dan diabetes mellitus. yang perlu kita perhatikan adalah ada baiknya jika kita tetap menjaga jarak dengan orang lain lebih-lebih dengan keluarga kita. Ya jaga jarak, ya jaga hubungan baik dengan keluarga.


    Perlu diketahui bahwa gejala COVID-19 adalah DEMAM DIATAS 38 DERAJAT CELCIUS, SESAK NAFAS, BATUK KERING DAN PILEK/FLU.
    Maka dari itu WHO dan Kemenkes RI menyarankan :

    1. Hindari kontak langsung seperti bersalaman dan cium pipi
    2. Jaga jarak 1 meter atau lebih dengan orang lain
    3. Sering-sering mencuci tangan
    4. Jika merasa tidak sehat, istirahat yang cukup dan tinggal di rumah (isolasi mandiri)
    5. Gunakan masker jika demam dan batuk serta menutup hidung dan mulut dengan tissue/lengan siku dalam saat batuk/bersin
    6. Kunjungi fasilitas kesehatan jika mengalami kesulitan bernafas
    7. Batasi menggunakan transportasi massal kecuali mendesak
    8. Ikuti panduan resmi dan informasi terkini

    Semoga menjawab pertanyaan
    Terima kasih

    Ttd
    Relawan COVID-19


Log in to reply
 



Pengguna Online: